Mengharukan!!! Begini kisah kakek pengayuh becak berseragam TNI

Share This

Ini Becak Saya!!!

Seorang kakek berjalan tertatih menyusuri gang sambil menenteng kantong plastik hitam. Sang kakek mengenakan seragam tentara lengkap dengan sepatu hitam dan topi baret merah. Seolah prajurit tentara yang hendak bertugas.

Setelah berada di ujung gang, tatapan kakek bertubuh kecil itu tertuju kepada sebuah becak yang terparkir di pinggir jalan. Ia lalu menghampiri becak usang tersebut dan mengeluarkan gunting dari kantong plastik yang dibawanya.

Dia lalu mulai memotong tali dan membuka secara perlahan terpal yang sebelumnya menutup becak tua itu. Wujud becak tersebut selaras dengan seragam yang dikenakan si kakek. Bendera merah-putih menghiasi becak loreng itu.

 

“Ini becak saya. Saya memang penarik becak,” kata Abdul kepada detikcom di kawasan Jatayu, Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa (23/1/2018).

Narik Becak Sejak Jaman Soekarno

Ia mengaku bekerja sebagai penarik becak sudah dilakoninya puluhan tahun silam. Kendaraan roda tiga ini sudah tidak terpisahkan dari hidup kakek berusia 77 tahun tersebut. Sebab, menarik becak sudah jadi mata pencaharian utama baginya.

“Sudah lama jadi penarik becak, sejak jaman Sukarno (presiden pertama RI). Belum pernah ganti pekerjaan lain,” ungkap dia.

Lelaki asal Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, ini menuturkan sudah lama berpakaian khas tentara saat bekerja menarik becak. Hal ini dilakukannya sebagai bentuk kecintaannya kepada Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Dia mengatakan tak jarang ada anggota TNI yang secara sukarela memberikan seragam baru kepadanya. Mengingat, seragamnya mudah lusuh karena hampir setiap hari digunakan saat bekerja sebagai penarik becak.

 

“Saya berpakaian seperti ini karena cinta TNI. Tidak ada merugikan TNI, karena tidak pakai pangkat apapun. Saya juga tidak berbuat hal-hal negatif,” tutur Abdul.

Tetap Menafkahi Istri meski Anaknya Memberi 300 Ribu Per Tahun

Himpitan ekonomi yang kini dirasakannya, membuat ayah dari tujuh orang anak tersebut tak bisa leha-leha saat usia senja. Abdul harus tetap banting tulang untuk bisa mengais pundi-pundi rupiah sebagai penyambung hidupnya dan sang istri.

Abdul saat ini tinggal seorang diri di sebuah kontrakan di Gang Taruna, RT 07 RW 12, Kelurahan Husein Sastranegara, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung. Sementara istrinya memilih menetap di Gunung Halu, KBB. Ia mengunjungi istrinya satu bulan sekali.

“Saya sebulan sekali harus pulang ngasih uang buat istri di sana (Gunung Halu). Kalau bukan dari saya, siapa lagi,” kata Abdul.

 

Ia mengaku tujuh orang anaknya sudah berkeluarga. Meski sudah anak-anaknya sudah bekerja dan memiliki keluarga, perhatian berupa materi tidak dirasa signifikan oleh Abdul. Sehingga, ia terpaksa mencari sendiri untuk biaya hidup.

“Cuma tiga orang anak saja yang masih ngasih uang masing-masing Rp 300 ribu setahun. Ngasihnya pas lebaran aja. Gak akan cukup buat hidup, makanya saya masih kerja,” ucapnya.

Kini Abdul mengaku tidak lagi kuat untuk mengangkut penumpang dengan becak. Apalagi penglihatannya sudah tidak berfungsi optimal lantaran termakan usia. Dia hanya bisa menarik becaknya menggunakan kedua tangannya.

“Sekarang cuma digerek saja becaknya, gara-gara mata saya udah enggak jelas sejak dua tahun lalu. Kadang ada yang minta foto atau video, terus ngasih (uang). Saya enggak minta, kalau ada yang ngasih saya terima,” ujarnya.

“Dulu saya bisa mutar-mutar kemana-mana. Sekarang paling jauh ke Pajajaran atau BTC (Pasteur),” kata Abdul. (bbn/bbn)

Repost from : detik.com

Foto : Mukhlis Dinilah, detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: